Wisata Candi Borobudur

Borobudur tidak hanya memiliki nilai seni yang teramat tinggi, karya agung yang menjadi bukti peradaban manusia pada masa lalu ini juga sarat dengan nilai filosofis. Mengusung konsep mandala yang melambangkan kosmologi alam semesta dalam ajaran Buddha, bangunan megah ini dibagi menjadi tiga tingkatan, yakni dunia hasrat atau nafsu (Kamadhatu), dunia bentuk (Rupadhatu) dan dunia tanpa bentuk (Arupadhatu).

Jika dilihat dari ketinggian, Candi Borobudur laksana ceplok teratai di atas bukit. Dinding-dinding candi yang berada di tingkatan Kamadatu dan Rupadatu sebagai kelopak bunga, sedangkan deretan stupa yang melingkar di tingkat Arupadatu menjadi benang sarinya. Stupa Induk melambangkan Sang Buddha, sehingga secara utuh Borobudur menggambarkan Buddha yang sedang duduk di atas kelopak bunga teratai.

Menikmati kemegahan Candi Borobudur tidak hanya cukup dengan berjalan menyusuri lorong dan naik ke tingkat teratas candi. Satu hal yang jangan dilewatkan adalah menyaksikan Borobudur-Sunrise dan Borobudur-Sunset dari atas candi. Siraman cahaya mentari pagi yang menerpa stupa dan arca Buddha membuat keagungan dan kemegahan candi lebih terasa. Sedangkan berdiri di puncak candi di kala senja bersama deretan stupa dan menyaksikan sinar matahari yang perlahan mulai lindap akan menciptakan perasaan tenang dan damai.

Candi Borobudur terletak di Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang,Provinsi Jawa Tengah. Letaknya sekitar 269 m di atas permukaan laut serta dikelilingi beberapa gunung. Candi ini menjadi world wonder heritages atau cagar budaya dunia dari Indonesia yang diakui oleh UNESCO.

Candi Borobudur mengalami 2 kali pemugaran;yang pertama tahun 1907 – 1911 yang dilakukan oleh Theodorus Van Erp pada masa penjajahan Belanda. Yang kedua kalinya, pemerintah Indonesia dengan bantuan dari UNESCO pada tahun 1973 – 1983.

Warisan dunia dengan luas 123 x 123 meter persegi ini dibangun antara abad ke-8 dan ke-9 oleh Raja Samaratungga, salah satu raja kerajaan Mataram Kuno, keturunan Wangsa Syailendra. Berdasar prasasti Kayumwungan, seorang Indonesia bernama Hudaya Kandahjaya mengungkapkan bahwa Borobudur adalah sebuah tempat ibadah yang selesai dibangun 26 Mei 824, nyaris seratus tahun sejak masa awal dibangun. Setiap tahunnya, umat Budha datang dari seluruh Indonesia dan   mancanegara berkumpul di Borobudur untuk memperingati Trisuci Waisak.

Nama Borobudur berasal dari kata Boro dan Budur.Boro berarti kuil atau candi, dari bahasa     Sansekerta ‘Byara’ sedangkan Budur dari kata ‘Beduhur’ yang artinya di atas bukit. Bangunannya terdiri dari 10 tingkatan berbentuk punden berundak.Dengan tinggi 34.5 meter, Borobudur terdiri atas 6 teras berbentuk bujur sangkar yang diatasnya terdapat tiga pelataran melingkar, lalu satu tingkat tertinggi berupa stupa Budha menghadap ke barat.

Arca Budha yang terdapat di Candi Borobudur jumlahnya 504 buah.Dan  juga terdapat 72 stupa berlubang yang di dalamnya terdapat arca Budha tengah duduk bersila dalam posisi teratai sempurna dengan sikap tangan Dharmachakra Mudra (memutar roda dharma).Setiap tingkatan bangunannya punmemiliki arti perlambang kehidupan manusia.

Sesuai mahzab Budha Mahayana, setiap yang ingin mencapai tingkat sebagai Budha mesti melalui setiap tingkatan tersebut. Bagian dasar di sebut sebagai Kamadhatu, melambangkan manusia yang masih terikat nafsu.Empat tingkat di atasnya disebut Rupadhatu, melambangkan manusia yang telah membebaskan diri dari nafsu namun  masih terikat rupa dan bentuk. Pada tingkat ini, patung Budha diletakkan terbuka.

Sementara, tiga tingkat di atasnya di mana Budha diletakkan di dalam stupa yang berlubang-lubang disebut Arupadhatu, melambangkan manusia yang telah terbebas dari  nafsu, rupa dan bentuk. Bagian paling atas yang disebut Arupa melambangkan nirwana, tempat Budha bersemayam.

Pengunjung bisa mendapatkan pelajaran berharga dengan mengunjungi Candi Borobudur. Terdapat juga relief yang menggambarkan bagaimana kehidupan masyarakat pada masa itu, misalnya aktivitas petani yang menunjukkan kemajuan sistem pertanian. Atau ada pula relief kapal layar yang merepresentasikan kemajuan pelayaran di mana pada saat itu berpusat di Bergotta (Semarang sekarang ini).