PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 6 Yogyakarta berencana merombak wajah stasiun Lempuyangan.

Perombakan ini dilakukan untuk menata alur penumpang dan arus lalu lintas depan stasiun yang sering semrawut.

Penataan direncanakan akan dimulai bulan ini juga.

Manajer Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Eko Budianto mengatakan, program ini diutamakan untuk memperluas ruang tunggu penumpang.

Selama ini dirasa ruang tunggu yang terbatas membuat penumpang berdesakan sehingga kurang nyaman.

“Dengan diperluas, kami berharap tidak uyek-uyekan lagi. Untuk itu nantinya loket akan digeser ke timur, demikian pula dengan boarding stasiun. Kanopi juga akan diperluas,” kata Eko kepada Tribun Jogja, Rabu (15/2/2017).

Untuk menambah layanan kepada penumpang, masjid yang ada di Stasiun juga akan dibagi dua. Dengan demikian, masjid bisa digunakan oleh penumpang yang ada dalam stasiun maupun yang berada di luar.

“Kemudian, mengikuti stasiun Tugu, area parkir juga akan diubah. Parkir bertingkat akan dibangun untuk mengantisipasi perubahan area parkir ini. Pengerjaan akan segera dilakukan dalam waktu dekat. Karena itu kami berharap masyarakat pengguna jasa kereta api untuk memaklumi,” lanjutnya.

Sementara itu, elemen pengguna jasa angkutan kereta api meminta hal tersebut dikaji terlebih dahulu.

Koordinator Komunitas Penglaju KA Prameks (KPK), Noor Harsya Aryosamodro mengatakan, rencana tersebut cukup berbeda dengan yang dipaparkan ketika audiensi pertengahan 2016 lalu.

“Waktu itu disebutkan pintu masuk akan dipindah ke utara dengan menggeser gudang semen. Namun berikutnya ternyata pintu akan digeser ke timur. Ini menjadi pertanyaan kami, sudahkah melalui proses riset arus lalu lintas belum? Selama inipun arus lalu lintas sudah sangat crowded,” ungkapnya.

Harya menjelaskan, selama ini arus lalu lintas di kawasan pintu utama stasiun Lempuyangan sudah sangat padat.

Efektivitas perubahan inipun menjadi pertanyaan mengingat stasiun Lempuyangan menjadi stasiun untuk kereta jarak jauh dan kereta lokal perkotaan.

“Apakah ada studi lapangan tentang itu? Yang kami lihat, sejauh ini tidak ada zona drop in. Antara pengguna parkir, yang akan menurunkan penumpang hingga pejalan kaki seperti berebut jalan karena pintu masuk jadi 1. Belum lama inipun sudah ada korban penumpang yang jatuh. Karena itu perlu ada zonasi yang jelas,” katanya.

Harsya menegaskan, pihaknya meminta PT KAI untuk mempertimbangkan kebutuhan, riset, dan perencanaan zonasi sebelum menerapkan kebijakan baru ini.

Terlebih, masih ada hak masyarakat yang terabaikan.

“Kota Yogya sebagai kota ramah difabel belum terlihat di perencanaan ini. Tidak ada fasilitas difabel yang disediakan. Karena itu, rencana ini perlu dikaji dan disosialisasikan ke semua pemangku kepentingan. Jangan hanya memikirkan kebutuhan PT KAI semata,” pungkasnya. (tribunjogja.com)