Sungai Oya merupakan satu sungai terpanjang di Yogyakarta.

Panorama alam sungai tersebut bisa dinikmati dari berbagai sudut di dataran tinggi sekitar Bantul dan Gunung Kidul.

Sungai yang nampak gagah dan legendaris itu memiliki pesona tersendiri untuk dinikmati.

Satu tempat untuk menikmati panorama Sungai Oya dari dekat adalah Kedung Jati.

Kedung Jati merupakan sebuah tempat dengan satu sisi Sungai Oya berkedalaman hingga 10 meter.

Menurut Edi, seorang petugas PDAM di sekitar Kedung Jati, pada tahun 1990-an, jalan menuju ke Kedung Jati tersebut masih tanah licin dan penuh dengan bebatuan terjal.

Kedung Jati memiliki suasana alam yang masih sangat natural.

Batuan-batuan besar di sekitar kedung menjadi pemandangan alam yang sangat menawan.

Kicauan khas burung-burung hutan di pinggir sungai dapat mewarnai pagimu yang cerah.

Suara angin yang menembus tebing batuan dan bukit sekitar Kedung, menjadikan nuansa yang hening di sekitar tempat tersebut.

Ada satu batu yang tinggi menjulang di sisi utara Kedung Jati tersebut.

Menurut warga sekitar, jika tidak tertutup tanaman-tanaman hijau yang lebat, batu besar tersebut, sekilas nampak menyerupai wajah seekor monyet.
Batu yang tinggi menjulang di sisi utara Kedung Jati tersebut.
Batu yang tinggi menjulang di sisi utara Kedung Jati tersebut. (Tribun Jogja/Gilang Satmaka)

“Di puncak batu besar tersebut, masih banyak monyet-monyet liar yang berkeliaran,” kata Edi.

Kedung yang terletak di Dusun Kedung Jati, Selopamioro Imogiri Bantul ini juga memiliki potensi alam ikan sidat yang luar biasa.

“Banyaknya batuan besar di pinggir kedung, untuk bersembunyi ikan-ikan sidat di Kedung Jati,” ungkap Edi.

Kedung ini juga seringkali dikunjungi para pemancing dari berbagai penjuru daerah untuk mencari ikan sidat.

Suasana sejuk dan angin semilir di antara batuan-batuan besar, serta cahaya Matahari pagi menembus bukit-bukit kecil di sekitar Kedung, membuat kedung ini sangat nyaman dikunjungi.

Baik untuk sekadar menikmati alam yang masih sangat natural atau memancing ikan-ikan.

Aliran air yang sangat tenang di Kedung Jati tersebut menimbulkan sedikit pusaran air, memperlihatkan begitu dalamnya kedung tersebut.

Pengunjung dapat menikmati aliran Sungai Oya, dengan duduk di pinggir batuan-batuan sungai lebar.

Di sebelah barat kedung tersebut terdapat sebuah kantor PDAM yang digunakan untuk mengaliri air ke seluruh Desa Selopamioro.

Untuk menuju ke Kedung Jati, pengunjung dapat melalui Jalan Imogiri Barat, hingga menuju ke Sekolah Polisi Negara (SPN).

Sebelum sampai ke SPN belok kanan lalu ikuti jalan perdesaan sekitar 2 km.

Traveler akan menemui papan penunjuk jalan yang mengarahkan ke Kedung Jati.

Jalan aspal berkelok juga menyuguhkan panorama alam persawahan yang sangat menawan.

Kegiatan warga yang sedang bertani di pagi hari menjadi pemandangan yang eksotis di sisi-sisi jalan menuju ke lokasi Kedung Pedut.

Bentangan sawah yang luas serta terasiring menambah nuansa perdesaan yang sejuk dan asri.
Bentangan sawah yang luas serta terasiring yang berlekuk indah menambah nuansa pedesaan yang sejuk dan asri.
Bentangan sawah yang luas serta terasiring yang indah menambah nuansa perdesaan yang
sejuk dan asri. (Tribun Jogja/Gilang Satmaka)

Edi mengatakan, rencananya pada tahun depan, untuk menuju ke Kedung Jati tersebut akan dibuat jalan tembusan berupa jalan darat.

Yaitu dari arah jembatan Gantung Selopamioro ke arah Kedung Jati.

Edi juga bercerita, ada sebuah mitos yang muncul dari para sesepuh di Desa Kedung Jati.

Pada zaman dahulu, batu besar yang terletak di sebelah utara Kedung Jati tersebut sering juga disebut Watu Nyiluman.

“Dulu kata warga sekitar, di batu tersebut sering terdengar suara orang menumbuk padi di sebuah lesung,” kata dia.

Suaranya memantul serta menggema dari batu besar tersebut, hingga terdengar oleh warga sekitar.

“Padahal pada waktu itu, di Desa Kedung jati, belum terjadi musim panen padi, padi-padi di sawah pun masih hijau dan belum menguning,” papar Edi. (tribun )