Bagi Anda yang pernah menetap di Jogja, pasti pernah merasa begitu berat ketika harus meninggalkan kota tersebut. Tak peduli berapa lama Anda dulu menetap di sana, kesan yang sama pasti Anda rasakan. Semakin lama Anda tinggal di sana, rasanya akan semakin berat untuk cau dari Jogja. Memang demikianlah, bagi banyak orang hengkang dari Jogja memang bukanlah sesuatu yang mudah. Terlebih jika Anda dulu adalah seorang pelajar atau mahasiswa yang telah banyak menghabiskan waktu di sana, lengkap dengan berbagai lika-likunya. Dan sepertinya kita semua telah sepakat, menjadi pelajar dan mahasiswa Jogja adalah pengalaman paling berharga dan berkesan selama Anda hidup di Indonesia, dan dunia!

Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat/ Foto via Nyobain

Tak hanya Anda, saat ini pun masih banyak orang-orang yang merasakan hal serupa. Bedanya, ada yang telah berhasil meninggalkan Jogja, walau dengan hati yang berat, karena ia sadar harus segera berlari lagi mengejar mimpi hidup. Sementara ada sebagian orang yang sampai saat ini masih merasakan perang batin yang begitu hebat, antara tetap bertahan atau segera pergi meninggalkan Jogja.

Mengapa itu semua bisa terjadi? Ada sebenarnya dengan Jogja? Berikut ini beberapa kemungkinan penyebabnya.

1. Karena Jogja Berhati Nyaman

Kita tidak akan berbicara tentang semboyan kota Jogja yang bersih, sehat, indah dan nyaman (Berhati Nyaman) ataupun berbicara tentang keramahan masyarakat Jogja, yang membuat kita nyaman dan betah tinggal di dalamnya. Soal itu tidak perlu kita bicarakan lagi, karena semua orang tentu sudah cukup memakluminya. Bagi saya itu semua hanyalah citra, yang sekarang cukup berhasil memengaruhi persepsi orang-orang yang pernah, sedang, atau akan tinggal di Jogja.

Lain daripada itu, kita akan berbicara soal rasa yang lebih gambang, sebagai akibat dari pelabelan kota Jogja selama ini. Ya, rasa nyaman. Anda merasa Jogja adalah tempat yang nyaman untuk Anda. Penyebabnya bisa banyak hal. Bisa karena adanya teman, sahabat, sekolah, kampus, tempat bekerja, atau tempat mondok yang cokok. Bisa karena Anda punya pasangan, bisnis, atau keluarga di kota ini.

Namun bagaimana jadinya jika di Jogja Anda sudah tidak punya teman misalnya? Katakanlah teman-teman Anda yang dulu sudah pada hengkang dari Jogja karena studinya telah selesai. Atau karena teman-teman terdekat Anda sudah semakin sibuk dengan dunianya yang baru, baik itu studi lanjutan, pekerjaan, maupun keluarga kecilnya. Masihkah Jogja menjadi tempat yang nyaman untuk Anda? Jika itu yang terjadi, maka dapat dipastikan Anda akan merasa kesepian. Mencari teman baru mungkin bisa dijadikan solusi, tapi ingatlah tidak semua orang bisa dengan mudah melakukan itu.

Atau pertanyaan lain, bagaimana jika saat ini Anda berada di tepi jurang kegagalan studi karena selama ini terlalu nyaman dengan berbagai ‘fasilitas’ yang diberikan oleh Jogja? Sementara itu, skripsi atau tugas akhir Anda masih saja mengkrak tak tergarap. Sementara itu, orangtua Anda di rumah sudah sangat berharap Anda dapat segera lulus dan menyandang gelar akademik. Sementara itu, Anda sudah merasa semakin asing dengan kampus sendiri. Masihkah Jogja menjadi tempat yang nyaman untuk Anda? Masihkah Anda merasa berat untuk meninggalkan Jogja? Jika yang terjadi adalah demikian, maka dapat dipastikan Anda akan cepat-cepat menyelesaikan semua itu, lalu hengkang dari Jogja. Baik sebagai pemenang ataupun sebagai pecundang!

Kita ambil contoh lagi. Bagaimana jadinya jika di Jogja Anda belum punya pekerjaan yang jelas dan menjanjikan? Sebab ternyata ijazah yang Anda punya sekarang sulit untuk membawa Anda sampai pada tempat kerja impian! Sementara orangtua di rumah sudah kerap bertanya ‘sudah dapat kerjaan belum, Nak?’. Sementara misalnya, pacar Anda sudah minta dinikahi. Masihkah Jogja menjadi tempat yang berat untuk Anda tinggalkan?

Terakhir untuk poin pertama ini, bagaimana jika di Jogja Anda hanyalah sesosok manusia kesepian tanpa kehadiran seorang pasangan? Masihkah Jogja menjadi tempat yang nyaman untuk Anda?

2. Karena Jogja Itu Full Fasilitas

Hal ini tidak bisa dimungkiri. Apa yang tidak ada di Jogja? Mulai dari A sampai Z, semuanya ada. Mulai dari yang negatif sampai yang positif, semuanya tersedia. Anda ingin perpustakaan dengan ribuan koleksi buku dan koneksi wifi yang super wuz? Ada!

Anda ingin menghadiri kajian-kajian keagamaan, seminar, workshop, konser, pagelaran seni, pementasan drama? Itu semua bisa dengan mudah Anda temukan.

Di Jogja Anda ingin membuka usaha baru? Tenang, di Jogja apa saja bisa laku.

Atau Anda ingin mengunjungi tempat piknik dengan berbagai macam ciri khas dan daya tarik? Ada!
Tempat makan dengan bermacam rasa? Banyak!

Tempat tinggal yang bebas tapi sopan atau las vegas tanpa ada pengawasan dari pemerintah maupun induk semang? Berjamur!

Tempat dugem yang bisa bikin Anda hepi sepanjang malam? Ada!

Fasilitas-fasilitas itulah yang membuat Anda nyaman karena tidak akan Anda temukan di tempat tinggal Anda yang dulu (daerah asal atau kampung halaman Anda). Maka ‘wajar’ jika kemudian Anda merasa begitu berat ketika harus meninggalkan Jogja, eh..semua fasilitas-fasilitas itu maksudnya.

3. Karena Keluar Dari Zona Nyaman itu Tidak Mudah, Walau Sebenarnya Juga Tidak Terlampau Sulit

Menyambung poin 1 dan 2, penyebab utama seseorang merasa berat meninggalkan Jogja adalah rasa nyaman. Alasan itu pasti sudah sering Anda dengar, baik dari orang lain atau mungkin diri Anda sendiri.

Sementara kita tahu, untuk keluar dari zona nyaman tidak semua orang bisa melakukan. Eh..lebih tepatnya tidak semua orang berani melakukan.

Hanya orang-orang pemberani yang bisa keluar dari belenggu zona nyaman. Orang-orang pengecut tak akan mampu melakukannya.

4. Karena sebenarnya Jogja itu fana, kenangannyalah yang abadi. Dan saat ini Anda masih ingin terus berenang dalam telaga kenangan itu.

Untuk Anda ketahui, sebenarnya meninggalkan Jogja itu mudah sekali. Yang sulit itu melupakan kesannya. Kenangannya.

Khusus soal ini, Anda bisa membaca catatan saya bertajuk ‘yang fana adalah Jogja, kenangan-kenangan itu abadi’. Berikut saya coba kutipkan sebagian catatannya.

Orang lain boleh mengatakan bahwa Jogja sekarang tak lagi nyaman, namun kenangan-kenangan di masa silam yang pernah dilewati dan dirasakan oleh orang yang lainnya, akan membuat mereka terus-menerus berekspektasi bahwa Jogja akan tetap baik-baik saja. Atau kalaupun seseorang telah mengakui ketidaknyamanan Jogja yang sekarang, ia tak akan pernah peduli.

Sebab kembalinya ia ke Jogja adalah untuk mengenang masa-masa silamnya dulu. Sebab baginya, ia boleh saja telah meninggalkan Jogja, namun tak akan pernah bisa melupakan kenangan yang ia rasakan selama berada di dalamnya. Sepahit, sebodoh, segetir, dan setakmenyenangkan apa pun kenangan itu. Karena itu merupakan saksi perjuangannya hingga sampai pada kondisi yang sekarang. Kenangan tetaplah kenangan, yang layak untuk terus dirayakan. Dan satu-satunya upacara yang harus dilakukan untuk merayakannya adalah dengan kembali ke Jogja. Lagi.

sumber: (viva)